Senin, 18 April 2011

adat minang


Etika Berbicara Remaja Minang Melupakan “Kato nan Ampek”

1.     Pendahuluan
A.   Latar Belakang Penulisan

Berbicara merupakan kebutuhan manusia. Berbicara merupakan salah satu cara yang efektif untuk berkomunikasi. Dengan berbicara kita dapat mengungkapkan informasi atau pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Dengan berbicara pula kita dapat meyampaikan maksud dan tujuan yang terdapat dalam pikiran kita dengan cepat.
Cara berbicara setiap orang berbeda-beda cara penyampaiannya. Ada cara berbicara sesorang yang to the point dan tidak berbasa-basi untuk memperjelas informasi yang digunakan. Namun ada pula yang menggunakan cara berbicara berbasa-basi atau menggunakan kata-kata perumpamaan dan tidak berterus terang atau tidak langsung pada yang ditujunya.


Segi berbicara yang tidak terus terang biasanya dianut oleh masyarakat Minang dalam berkomunikasi. Bagi masyarakat Minang berbicara tidak terus terang atau yang biasanya menggunakan bahasa kiasan dalam bicara merupakan nilai atau adat tersendiri yang dipegang oleh masyarakat Minang. Orang Minang lebih suka menggunakan ibarat, misalnya, atau sindiran yang mempergunakan simbol atau lambang tertentu yang berbentuk pantun atau petatah-petitih. Dan orang akan mengerti arti dari bahasa kiasan yang digunakan. Karena memang dalam berbicara, simbol atau lambang tertentu berhubungan dengan maksud yang sebenarnya. Otak kita diajak berpikir walau hanya dengan berbicara santai, karena tujuan berbicara yang menggunakan simbol atau lambang memang untuk menggali wawasan kita.
Bagi masyarakat Minang terdapat etika, adab dan sopan santun berbicara. Minangkabau mengenalnya dengan sebutan “Kato nan Ampek”. Yaitu adab bicara yang dibedakan berdasarkan empat jenis lawan komunikasi kita. Adab berbicara “Kato nan Ampek” tersebut yaitu terdiri atas kato mandaki, kato mandata, kato malereng dan kato manurun.
Pedoman berbicara “Kato nan Ampek” yang  membedakan lawan bicara dengan empat tingkatan tersebut yaitu : pertama kato mandaki merupakan kata atau adab yang digunakan bila kita berkomunikasi dengan  orang yang lebih tua atau dituakan atau bahkan orang yang harus dihormati karena gelar kebangsawanan atau kedudukannya, misalnya penghulu atau niniak mamak ; kedua kato mandata yaitu kata yang digunakan bila berkomunikasi dengan teman atau rekan sejawat, misalnya di kampus atau tempat kerja ; ketiga kato malereng yaitu kata atau adab yang digunakan bila kita berkomunikasi dengan ipar, besan, sumando atau mamak rumah ; dan keempat kato manurun yaitu kata adab yang digunakan bila kita berkomunikasi dengan orang yang lebih muda atau kepada bawahan,misalnya adik sendiri.
Sehubungan dengan hal di atas, penulis mengulas cara berbicara remaja Minang dalam mengembangkan adab “Kato nan Ampek” yang merupakan tanggung jawab kita sebagai penerus.

B.   Batasan Penulisan

Kebebasan berbicara di era reformasi ini, memberikan pengajaran yang kurang baik. Terlebih bagi generasi muda yang menggunakan hal tersebut sebagai alasan untuk menyela perkataan orang tua. Kenyataan seperti bantahan yang kerap dikeluarkan oleh generasi muda terhadap perkataan orangtua dianggap hal yang biasa.  Realita tersebut membuktikan bahwa kurangnya sopan-santun berbicara bagi generasi muda, terlebih hal tersebut bertentangan dengan adab berbicara “Kato nan Ampek” yang dipegang teguh oleh masyarakat Minang . Dengan melihat kenyataan tersebut, pengulasan etika berbicara generasi muda dirasa perlu. Karena berbicara merupakan hal mendasar dalam berhubungan di kehidupan sehari-hari.

C.   Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk memberikan pengertian kepada remaja bagaimana cara berbicara yang sopan terhadap lawan berbicaranya berdasarkan adab Minangkabau  “Kato nan Ampek”.
2.     Kajian Teori

Komunikasi sudah merupakan bagian kekal dari kehidupan manusia seperti halnya bernapas. Sepanjang mansia ingin hidup, ia perlu berkomunikasi ( Everett Kleinjan, 1986). Dalam ruang lingkup yang lebih terinci, komunikasi yang menggambarkan bagaimana seseorang menyampaikan sesuatu lewat bahasa atau simbol-simbol tertentu kepada orang lain (Hafied Cangara, 2008).
Tujuan lain komunikasi adalah untuk menjalin hubungan sosial (social relationship) antara pembicara dan lawan bicara. Faktor peran dan hubungan antara pembicara dan lawan bicara menjadi pertimbangan penting dalam proses komunikasi. Misalnya, komunikasi antara seorang bawahan pada atasan, seorang anak pada bapak, sesama teman akrab, semua ini menuntut strategi komunikasi yang berbeda. Jika seorang bawahan berbicara pada atasan, dia akan memilih ungkapan yang sesuai dengan peran dia dan atasanya. Bahkan pemilihan kata saja tidak cukup, seringkali ucapan seorang bawahan tersebut disertai dengan body language (bahasa tubuh) yang merepresentasikan penghormatan dia pada atasan (Syamsul Anam, 2001).
Semua pembicaraan haruslah yang baik, dalam hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan: “Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari Muslim). Maka dalam berbicara dengan siapapun lawan berbicara kita, sebaiknya menggunakan pemilihan kata (diksi) yang baik dan sesuai dengan penempatannya.
Banyak kesalahan komunikasi (miscommunication) terjadi dalam masyarakat karena tidak memahami simbol-simbol lokal (Hafied Cangara, 2008). Seperti di Minang yang kerap menggunakan simbol-simbol atau lambang-lambang tertentu guna mengungkapkan pesan yang tersirat didalamnya. Salah satu acuan yang dapat kita pedomani adalah adab berbicara di Minang Kabau Sumatera Barat yang dikenal dengan “Kato nan Ampek” yaitu adab berbicara dibedakan atas empat (ampek) jenis audience atau lawan komunikasi kita (Riny Yunita, 2008).


Daftar Pustaka

Anam, Syamsul. 2001. “Sopan santun berbahasa atau sekedar berbasa-basi”. Jurnal ilmu bahasa dan sastra.
Cangara, Hafied. 2008. “Pengantar ilmu komunikasi”. Jakarta : RajaGrafindo Persada.
http://www.kabarindonesia.com, Minggu, 12 Juli 2009, diakses Kamis, 21 Oktober 2010. “Realita kato nan ampek di minangkabau”.
http:// www.wordpress.com,  Rabu, 9 April 2008, diakses senin, 8 November 2010. “ Etika berbicara”.

2 komentar: